Laporan Penelitian Fosil di Museum Latemmamala watansoppeng



Laporan Penelitian Fosil di Museum Latemmamala watansoppeng
2014/2015

Kali ini saya Ingin Share ke adek Kelas saya , karena sesuai dengan permintaannya yang mengiginkan Contoh laporan Peelitian fosil di Museum latemmamala .untuk memudahkan tugas-tuganya .
 
Untuk File.doc bisa di Unduh Disini

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
            Pada zaman dahulu , dinosaurus dan fosil lainnya dapat terbentuk dengan cara yang berbeda seperti dikemukakan dalam buku-buku tentang evolusi. Fosilisasi pada binatang hampir tidak pernah terjadi kecuali mereka dikubur dengan cepat serta dalam, sebelum binatang atau burung pemakan bangkai, bakteri dan erosi membuat mereka menjadi debu. Kondisi seperti ini sangat tidak biasa. Dalam banyak kejadian, keberadaan fosil baik dalam tipe maupun jumlah menunjukkan dengan jelas kondisi bencana saat penguburan atau pengawetannya. Dinosaurus besar, kelompok ikan besar dan banyak aneka binatang ditemukan dalam endapan lumpur yang banyak dan mengeras menjadi batu. Hampir semua fosil ditemukan dalam endapan yang berair.Fosil adalah bukti-bukti yang didapatkan dari kehidupan pra- sejarah. Batasan masa pra-sejarah lebih dari enam juta tahun yang lalu.
Menurut definisi tersebut, maka yang dimaksud dengan fosil adalah meliputi segala macam bukti, baik yang bersifat langsung maupun tak langsung. Contoh bukti langsung dari kehidupan prasejarah adalah tulang dinosaurus, sedangkan bukti tak langsung adalah jejak tapak kaki bewail yang terawetkan dalam lumpur, dan koprolit (material faeces). Catatan : fosil tidak memberikan bukti yang mendukung Evolusi. "Keberadaan fosil membuat malu teori Evolusi dan mendukung konsep Penciptaan." ( Dr. Gary Parker, PhD., ahli biologi/paleontologi yang sebelumnya pendukung Evolusi ). Fosil banyak di temukan di wilayah Indonesia , salah satunya di daerah Sulawesi selatan , yang kemudian telah d simpan di Museum Latemmamala Watansoppeng . pada makalah ini akan di bahas fosil yang terdapat di Museum Latemmamala Watansoppeng

Fossilization :
Semua proses yang melibatkan penimbunan hewan atau tumbuhan dalam sedimen, yang terakumulasi & mengalami pengawetan seluruh maupun sebagian tubuhnya serta pada jejak-jejaknya .
B. Tujuan
Mengumpulkan informasi dan membuat laporan hasil studi tentang fosil yang diamati atau situs temuan fosil.
C. Manfaat
            Dapat mengetahui informasi tentang fosil yang diamati atau situs temuan fosil
D. Waktu Dan Tempat
1.      Waktu Penelitian/ Pengamatan :
Minggu, 25 Januari 2015 pukul 08.00- selesai
2.      Tempat Pengamatan :
Museum Latemmamala Watansoppeng













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.        Villa Juliana (Museum Latemmamala)
Villa Juliana merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda di Kabupaten Soppeng. Bangunan yang mulai dibangun pada tahun 1905 dan selesai pada tahun 1907 atas prakarsa C. A. Croesen selaku Gubernur Pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi ini menjadi salah satu ikon wisata sejarah Kabupaten Soppeng.
Terletak di salah satu sudut Kota Watansoppeng, bangunan yang kini berusia satu abad lebih yang belakangan difungsikan sebagai Museum Latemmala tersebut tidaklah terlalu sulit untuk diakses. Apalagi, dengan posisinya di ketinggian membuat bangunan yang awalnya dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada Ratu Juliana, putri Ratu Wilhelmina yang pernah berkuasa di Belanda ini menjadi sangat menonjol.
Juru Pelestari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Villa Juliana, Lamadi, kepada penulis mengatakan keberadaan Villa Juliana tersebut memang awalnya diperuntukkan sebagai penginapan bagi Ratu Juliana yang direncanakan berkunjung ke Soppeng. Hanya saja, sengitnya peperangan antara Belanda dengan Kerajaan Gowa pada masa itu serta alasan faktor keamanan, kunjungan putri penguasa Belanda, Ratu Wilhelmina ini dibatalkan.
Bangunan yang merupakan perpaduan antara arsitektur Eropa dan Bugis dan disebut-sebut memiliki ‘kembaran’ di Belanda ini mulai dibangun pada tahun 1905 atas prakarsa Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi dan baru selesai dibangun pada tahun 1907.
Selanjutnya, selain dijadikan sebagai tempat peristirahatan Pemerintah Hindia Belanda, Villa Juliana juga difungsikan sebagai pusat perkantoran dan pengawasan terhadap aktivitas raja dan masyarakat Kabupaten Soppeng.
Text Box:  Salah satu sudut Kabupaten Soppeng diambil dari lantai dua Villa Juliana

13966205291107136335Selanjutnya, kata dia, Villa Juliana ini kemudian dijadikan Mess Pemda pada tahun 1992, diambil alih Dinas Budaya dan Pariwisata sebagai salah satu cagar budaya pada tahun 2005 hingga kemudian menjadi Museum Latemmamala pada 23 Maret 2008 bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Soppeng.
Bangunan di belakang bangunan utama Villa Juliana yang dulunya difungsikan sebagai pusat perkantoran Pemerintah Hindia Belanda di Soppeng
Untuk renovasi, ungkap Lamadi, hanya dilakukan pada bagian atap yang sudah tiga kali mengalami perubahan. (sumber : http://wisata.kompasiana.com )
Menjadi Museum Latemmamala
Selain menjadi salah satu cagar budaya, Villa Juliana juga berfungsi sebagai museum. Di lantai satu, terdapat beberapa koleksi foto lama seputar sejarah Kabupaten Soppeng, fosil-fosil yang ditemukan peneliti di kawasan Calio, buku-buku seputar Kabupaten Soppeng serta peralatan-peralatan kuno yang digunakan oleh masyarakat tempo dulu yang masih tersimpan rapi.
Sementara di lantai dua, terdapat beberapa koleksi benda pustaka peninggalan Kerajaan Soppeng serta keramik asal China sebagai bukti adanya kerjasama antara Kerajaan Soppeng dengan para pedagang China.
Dari ruang fosil, kita dapat melihat adanya fosil gajah yang ditemukan pada tahun 1993 di Tanjonge, rahang gajah purba, fosil kura-kura raksasa yang juga ditemukan di kawasan sungai di daerah Calio, tengkorak babi rusa serta fragmen gigi Anoa yang semuanya ditemukan peneliti di wilayah Kabupaten Soppeng
Salah satu artefak kuno berupa pahat batu yang ditemukan oleh peneliti di wilayah Kabupaten Soppeng yang tersimpan pada salah satu ruang lantai satu Villa Juliana.
Villa Juliana, umumnya banyak dikunjungi oleh para pelajar dan mahasiswa sebagai tugas penelitian dan sejarah. Di samping itu, juga sering dikunjungi oleh peneliti dari luar negeri, seperti Belanda, Austria dan negara lainnya. (sumber : http://wisata.kompasiana.com )
B.     Pengertian Fosil
Fosil (bahasa Latin: fossa yang berarti "menggali keluar dari dalam tanah") adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau mineral. Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus segera tertutup sedimen. Oleh para pakar dibedakan beberapa macam fosil. Ada fosil batu biasa, fosil yang terbentuk dalam batu ambar, fosil ter, seperti yang terbentuk di sumur ter La Brea di Kalifornia. Hewan atau tumbuhan yang dikira sudah punah tetapi ternyata masih ada disebut fosil hidup. Fosil yang paling umum adalah kerangka yang tersisa seperti cangkang, gigi dan tulang. Fosil jaringan lunak sangat jarang ditemukan.Ilmu yang mempelajari fosil adalah paleontologi, yang juga merupakan cabang ilmu yang direngkuh arkeologi. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Fosil )

A.    Fosilisasi
 merupakan proses penimbunan sisa-sisa hewan atau tumbuhan yang terakumulasi dalam sedimen atau endapan-endapan baik yang mengalami pengawetan secara menyeluruh, sebagian ataupun jejaknya saja. Terdapat beberapa syarat terjadinya pemfosilan yaitu antara lain:
1.      Organisme mempunyai bagian tubuh yang keras
2.      Mengalami pengawetan
3.      Terbebas dari bakteri pembusuk
4.      Terjadi secara alamiah
5.      Mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit
6.      Umurnya lebih dari 10.000 tahun yang lalu.
(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Fosil )
Tahap fosilisasi
Ada tiga tahap utama dalam pembentukan fosil, yaitu kematian, peristiwa pre-burial (pra-terkubur) dan peristiwa post-burial (pasca-terkubur). Jadi untuk menjadi fosil sebuah organisma harus mengalami kematian terlebih dahulu.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4O9yAqZutu7eJT1HecXTxBGC6WL25hqEUG3m3mhsxq-fwQodbCHWM8xhJzN4FXovogbYYBTo98KsTl2sIkEpjl9j5pjc5I2fcG1mA4RB9Xe_1zqtKXjix7RzBTbmnF64AILZRJVDsQOE/s400/fossilization_blogwesaursdotcom.gif
Fosilisasi (www.blog.websaurs.com)
Kematian bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti usia tua, sakit, dimangsa predator, infeksi parasit, dan terluka (baik karena terjatuh maupun berkelahi). Fosil dinosaurus banyak mengindikasikan bahwa binatang ini rentan terhadap pernyakit radang sendi, sedangkan parasit biasanya menyerang binatang invertebrata dan krinoid. Hal lain yang dapat menyebabkan kematian adalah yang berkaitan dengan kondisi fisikal, kimiawi dan biologikal lingkungan (seperti perubahan iklim)
Proses yang dialami organisma setelah kematian adalah pembusukan karena bakteri pembusuk, dan yang lebih dahulu mengalami pembusukan adalah jaringan lunak (daging, otot). Jaringan keras seperti tulang dan gigi adalah bagian tubuh yang awet sehingga bagian inilah yang biasanya terfosilkan. Selain karena pembusukan kerusakan jaringan lunak terjadi karena dcabik dan dimakan binatang pemakan bangkai.
Organisma yang terkubur cepat (rapid burial) biasanya akan terfosilkan di tempat dia mati dan dalam posisi awal ketika dia mati. Fosil ini disebut fosil autochtonous. Fosil yang mengalami rapid burial biasanya terawetkan dengan baik karena tidak mengalami gangguan pasca-mati dan struktur anatominya utuh. Sedangkan organisma yang tidak langsung terkubur, biasanya akan mengalami proses-proses alamiah seperti hanyut terbawa arus air, busuk karena angin dan udara, atau dicabik binatang pemakan bangkai sehingga posisinya sudah berpindah dari tempat dia mati, dan susunan tubuhnya sudah tidak anatomis lagi. Fosil seperti ini disebut fosil allochtonous. Maksud tidak anatomis adalah organisma tersebut sudah tercerai-berai tulang-belulangnya sehingga bentuk anatominya tidak seperti bentuk ketika organisma tersebut masih hidup.
Rapid burial biasanya terjadi di lingkungan air atau dekat dengan air, dan organisma yang mengalami fosilisasi seperti ini biasanya adalah binatang air. Untuk binatang yang hidup di daratan, fosilisasi melalui rapid burial sangat jarang terjadi. Biasanya hal tersebut terjadi bila ada gunung meletus sehingga banyak binatang mati seketika di suatu tempat dalam jumlah massal dan langsung terkubur dalam timbunan sedimen material muntahan gunung api. (Julimar 16/09/2010).
B.     Proses pembentukan Fosil

pengertian fosil - proses pembentukan fosil
Perhatikan gambar di atas, Ketika suatu organisme mati, bangkainya terkubur dan lambat laun berubah menjadi fosil. Biasanya hanya bagian-bagian terkeras, seperti cangkang atau tulang, yang masih terawetkan. Kadang-kadang bangkai tersebut perlahan-tahan membatu. Molekul-molekul aslinya digantikan oleh berbagai jenis mineral seperti katsit atau besi pirit. Namun, ada puta beberapa fosil yang masih mengandung sebagian besar molekuI astinya. Sebuah cabang ilmu baru yang disebut pateontotogi molekuter berupaya untuk membandingkan kesamaan komposisi kimia atau bahkan gen dari spesies purba yang tetah punah dengan spesies yang masih hidup hingga kini. (sumber : http://ridwanaz.com/umum/alam/pengertian-fosil-pembentukan-fosil-waktu-geologis/ )
C.    Tempat penemuan fosil
Kebanyakan fosil ditemukan dalam batuan endapan (sedimen) yang permukaannya terbuka. Batu karang yang mengandung banyak fosil disebut fosiliferus. Tipe-tipe fosil yang terkandung di dalam batuan tergantung dari tipe lingkungan tempat sedimen secara ilmiah terendapkan. Sedimen laut, dari garis pantai dan laut dangkal, biasanya mengandung paling banyak fosil.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Alat Dan Bahan

Alat :
1.      Alat Tulis
2.      Buku
3.      Kamera
Bahan :
1.      Fosil

B.     Cara kerja
1.      Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.      Mendengarkan penjelasan dari pemandu kegiatan.
3.      Mencatat hal-hal yang penting.
4.      Menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti pada pemandu.
5.      Mengambil gambar-gambar fosil.
C.    Pertanyaan LKS
1.      Apa pengertian dari fosil ?
2.      Ada berapa macam fosil yang terdapat di Museum Latemmamala Soppeng dan jenis-jenisnya ?
3.      Di mana fosil itu ditemukan, bagian mana saja yang ditemukan, apakah bagian yang ditemukan lengkap serta siapa yang menemukannya ?
4.      Bagaimana cara pembuatan fosil buatan (Replika Fosil) dan bahan apa saja yang digunakan ?
5.      Bagaimana cara membedakan antara fosil dengan batu biasa ?
6.      Apa alat yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui umur fosil ?

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
Jawaban Pertanyaan
1.      Fosil adalah sisa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan bagian tubuh manusia yang telah membatu. jadi, ada fosil tumbuh-tumbuhan, fosil hewan, dan fosil manusia. fosil dapat memberi petunjuk tentang kehidupan manusia pada zaman purba.
2.      Fosil yang terdapat di Museum Latemmamala sangat banyak dan jumlahnya hampir mendekati ratusan. Jenis fosil di Museum Latemmamala yaitu ada fosil hewan, fosil tumbuhn, fosil tengkorak, fosil kerang, dan masih banyak lagi.
3.      Fosil itu ditemukan, bagian mana saja yang ditemukan, apakah bagian yang ditemukan lengkap serta siapa yang menemukannya  :
4.      Cara membuat replica fosil
1.      Siapkan campuran fosil. Metode pembuatan fosil ini menggunakan bahan-bahan seperti semen, gipsum, semen plastik dan lain-lain untuk membentuk fosil yang tampak seperti batuan dengan bentuk yang Anda inginkan. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah mempersiapkan campuran "basah" dengan mengikuti petunjuk di dalam kemasan bahan yang Anda gunakan. Kemudian, tuangkan campuran Anda ke dalam wadah yang cocok - misalnya mangkuk plastik, wadah Tupperware, atau karton susu yang sudah Anda bagi menjadi dua bagian untuk membuat fosil berukuran kecil. Untuk membuat fosil yang berukuran lebih besar, gunakanlah wadah yang lebih besar juga.
2.      Tekan fosil ke dalam campuran Anda. Pilih benda yang ingin Anda buat menjadi fosil. Letakkan benda ini ke dalam campuran dan tekan hingga setengahnya terendam. Cobalah menyisakan sebagian dari benda yang akan Anda buat fosil tersebut di atas campuran sehingga Anda akan mudah mengeluarkannya. Jika Anda suka menggantung fosil Anda setelah kering, tancapkan paku ke dalam campuran untuk membuat lubang gantungan.
3.       Biarkan campuran fosil mengering. Sekarang yang perlu Anda lakukan adalah menunggu campurannya mengering - fosil buatan Anda akan memberikan hasil yang terbaik jika batuan anda mengering sempurna sebelum Anda mengeluarkan benda dari dalamnya. Jika Anda bisa, Anda mungkin perlu menjemurnya di bawah sinar matahari agar lebih cepat mengering.
4.      Angkat fosil. Saat batuan Anda telah mengering dengan sempurna, cobalah perlahan-lahan angkat seluruh bagian fosil Anda - campuran kering bersama dengan benda yang Anda gunakan dari wadahnya. Berhati-hatilah karena Anda bisa dengan mudah merusak bentuknya pada langkah ini. Jika Anda kesulitan mengeluarkan fosil, maka Anda perlu memecahkan wadahnya sekaligus.
5.       Cungkil keluar benda dari mangkuk atau karton perlahan-lahan. Dengan gerakan tangan yang tenang (dan sedikit keberuntungan), Anda bisa mendapatkan cetakan kering yang menunjukkan benda yang Anda masukkan ke dalamnya. Sekarang Anda telah mendapatkan fosil buatan!
6.       Ubah tampilan fosil Anda agar tampak lebih otentik. Fosil yang asli tidak berbentuk simetris dan sempurna - biasanya tampak tua, dan kasar. Jika Anda ingin fosil Anda tampak seperti aslinya, maka Anda perlu mengubah sedikit tampilannya. Gunakan palu untuk mengelupas sebagian ujungnya, sapukan tanah ke atasnya. Gunakan amplas untuk meniru efek erosi. Anda bahkan bisa mengecat fosil Anda agar warnanya lebih tua - gunakan imajinasi Anda!
7.      Pajang fosil buatan Anda dengan bangga! Saat bentuknya sudah sesuai yang Anda inginkan, pamerkan fosil Anda! Bawalah ke sekolah sebagai hiasan di kelas atau gantunglah di kamar Anda. Untuk efek yang lebih bagus, cobalah letakkan fosil buatan Anda dengan artefak asli yang Anda temukan di alam.
 
5.       cara membedakan antara fosil dengan batu biasa  :

6.      alat yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui umur fosil  :
Ø  Metode : Penanggalan Radiokarbon ( Mengukur usia hingga 14.300 tahun )
Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan usia bangunan maupun benda-benda kuno di bidang arkeologi adalah penanggalan radiocarbon (radiocarbon dating). Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Willard F. Libby pada tahun 1940 di Institute for Nuclear Studies, Universitas California. Penanggalan radiokarbon berbasis pada peluruhan peluruhan unsur radioaktif alam C-14. Karena dapat memberikan hasil yang sangat memuaskan, metode itu hingga saat ini masih tetap digunakan secara luas untuk penaggalan temuan-temuan arkheologi.

Jumlah radionuklida kosmogenik C-14 dalam tubuh makhluk hidup (manusia, hewan serta tumbuh-tumbuhan) selalu tetap, karena disamping terjadi pemasukan juga terjadi pengeluaran maupun peluruhan yang berlangsung secara kontinu. Namun setelah kematian makhluk hidup, tidak ada lagi C-14 yang masuk ke dalam tubuh. Di sisi lain, karena C-14 bersifat radioaktif, maka radionuklida tersebut akan meluruh sehingga jumlahnya semakin lama akan terus berkurang secara eksponensial. Ketika suatu saat jasad makhluk hidup tersebut ditemukan dalam bentuk fosil, maka usia dari fosil tersebut dapat diketahui melalui pengukuran kadar C-14 yang masih tertinggal di dalam fosil.
Ø  Metode : Penanggalan Argon-Argon( Mengukur usia kira-kira 154.000 s/d 160.000 tahun )
Metode penanggalan Radiokarbon bekerja dengan baik untuk beberapa penemuan arkeologi, namun memiliki keterbatasan, sampai saat ini hanya dapat digunakan untuk mengukur usia bahan organik kurang dari sekitar 60.000 tahun. Namun, ada isotop radioaktif lain yang dapat digunakan untuk mengukur usia bahan non-organik (seperti batu) dan bahan-bahan yang lebih tua (sampai miliaran tahun)
Ø  Metode : Penanggalan Termoluminisen/Thermoluminescence
( Mengukur usia lebih dari 77.000 tahun )

Seperti dalam Penanggalan Argon-Argon, metode penanggalan Termoluminisen ini dialakukan dengan cara sampel dipanasi dengan suhu tinggi, kemudian dihitung/diamati mulai dari sejak mula dipanasi. Dengan pemanasan suhu ekstrim tinggi menyebabkan sebagian elektron yang terdapat pada kristal tertentu seperti kuarsa dan felspar dalam batuan tereliminir, sedang seiring dengan lepasnya elektron tersebut maka dapat ditemukan jumlah jejak atom radioaktif yang ditemukan dilingkungannya. Dengan cara memanasi ulang batuan tersebut ilmuwan dapat melepaskan energi yang tersimpan, yang berupa pelepasan sebekas cahaya, ini yang dinamakan “Termoluminisen”. Intensitas cahaya menunjukan Intensitas cahaya menunjukkan berapa lama batuan tersebut sejak terakhir telah dipanaskan.



BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Fosil adalah sisa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan bagian tubuh manusia yang telah membatu. jadi, ada fosil tumbuh-tumbuhan, fosil hewan, dan fosil manusia. fosil dapat memberi petunjuk tentang kehidupan manusia pada zaman purba. oleh karena itu, fosil semacam itu disebut fosil pandu.
Fosil yang terdapat di Museum Latemmamala sangat banyak dan jumlahnya hampir mendekati ratusan. Jenis fosil di Museum Latemmamala yaitu ada fosil hewan, fosil tumbuhn, fosil tengkorak, fosil kerang, dan masih banyak lagi.

B.     Saran
Untuk mempelajari teori evolusi , akan lebih baik jika mengadakan studi tour tentang bukti-bukti efolusi seperti fosil .





DAFTAR PUSTAKA

0 Response to "Laporan Penelitian Fosil di Museum Latemmamala watansoppeng"

Posting Komentar